Alamat
Jl. Wijaya VI No. 14B, Kebayoran Baru - Jakarta
Indonesia 12160
Ph. 021. 72801172
Fax. 021. 72801174
E-mail : perpustakaan@pelangi.or.id
www.pelangi.or.id

Jam Buka
Senin - Kamis
Pk. 09.00 s/d 16.00
Jumat
Pk. 09.00 s/d 15.00


Link
http://www.pelangi.or.id
http://opac.pelangi.or.id
http://www.jplh.or.id
http://campaign.pelangi.or.id
http://books.google.com
http://www.pnri.go.id



Iklan


Artikel pada Topik : Koleksi Artikel Surat Kabar

 

Pertamina Buat BBM Baru
23-Mar-2005 | 10:29

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/23/ekonomi/1636522.htm

Jakarta, Kompas - PT Pertamina (Persero) menciptakan prototipe bahan bakar baru yang ramah lingkungan, bersih, praktis, dan ekonomis untuk pembakaran di sektor rumah tangga atau industri. Produk yang dikenal dengan nama Gasified Petroleum Condensat ini diperkenalkan langsung oleh Direktur Utama Pertamina Widya Purnama di Jakarta, Selasa (22/3).

"Bahan bakar ini khusus dibuat untuk daerah terpencil yang dekat dengan sumur-sumur minyak. Prototipe ini diharapkan dapat dikembangkan untuk mengurangi konsumsi minyak tanah di masyarakat," ujar Widya.

Pengenalan prototipe ini merupakan upaya Pertamina dalam menghadapi tantangan untuk menyediakan bahan bakar yang ekonomis. Tahap komersialisasi Gasified Petroleum Condensat (GPC) ini akan terus dikaji dan dikembangkan, khususnya yang terkait dengan infrastruktur, serta kajian antara suplai dan permintaan secara komprehensif. Pertamina juga masih menghitung harga jual produk ini.

Sesuai catatan Kompas, pemakaian minyak tanah di Indonesia relatif tinggi, tercatat pada tahun 2004 mencapai 11 juta kiloliter. Akibat kenaikan harga minyak mentah dunia, pemerintah harus menanggung beban subsidi minyak tanah di atas Rp 2.000 per liter karena harga minyak tanah dalam negeri hanya dipatok Rp 700 per liter.

Bahan bakar ini merupakan hasil dari proses pengambilan kondensat yang tidak stabil (unstable condensate) dari sumur-sumur minyak. Produk hasil inovasi Pertamina ini dikembangkan oleh Penelitian dan Laboratorium Pengolahan PT Pertamina bekerja sama dengan Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Selatan (DOH SBS) sejak dua tahun lalu.

Kondensat yang diproduksikan oleh sumur minyak merupakan hasil kondensasi dari gas hidrokarbon (berbentuk cair) dan masih memiliki kandungan kondensat yang tidak stabil sebesar 10-20 persen, yang mudah menguap.

Proses pemanfaatan ini merupakan nilai tambah yang dikembangkan Pertamina untuk mengurangi kehilangan (losses) alamiah dari kondensat. Selain itu, kondensat yang tidak stabil juga mengurangi nilai keekonomian proses apabila tercampur dengan kondensat yang dipakai dalam proses pengolahan di kilang.
Selain itu, pengambilannya juga meningkatkan efisiensi operasi kilang.

GPC memiliki nilai bakar hingga 12.000 kalori per gram atau lebih tinggi dibandingkan dengan minyak tanah yang memiliki nilai bakar 9.900 kalori per gram. Oleh karena itu, bahan bakar ini dipastikan jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan minyak tanah.

Prototipe GPC akan diperkenalkan dalam kemasan tabung tiga kilogram sehingga sangat praktis dalam pemakaian. Untuk tahap awal akan diproduksikan 1.370 ton per bulan dari pemanfaatan produksi kondensat di daerah DOH SBS sebesar 300 barrel per hari.

BBM perlu naik

Secara terpisah, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda Goeltom mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan hal yang wajar pada saat harga minyak mentah dunia yang semakin melonjak.

Ia mengatakan, Indonesia sedikit terlambat dibandingkan dengan negara lain dalam menaikkan harga BBM. Thailand sudah sejak dua bulan lalu menaikkan harga BBM-nya.

"Bisa saja pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM, tetapi berarti subsidi minyak semakin tinggi karena harga minyak dunia yang melonjak. Beban anggaran juga akan semakin tinggi," ujarnya.

Dengan beban anggaran yang semakin bertambah, bukan hanya kondisi perekonomian sekarang yang dikorbankan, tetapi kemampuan untuk tumbuh ke depan ikut dikorbankan. Menurut Miranda, tentu hal ini tak diinginkan karena lebih baik berkorban sekarang sembari memperbaiki struktur ekonomi, tetapi ke depannya lebih stabil.

Menurut dia, kenaikan harga BBM memang tidak terhindarkan. Dengan menaikkan harga BBM, efek putaran kedua (second round effect) bisa diminimalisasi. Untuk efek putaran pertama, BI menargetkan 0,2-0,35 persen memengaruhi nilai inflasi dalam satu tahun.

"Dengan kenaikan harga BBM, efek putaran kedua diharapkan berada di kisaran 0,3-0,4 persen. Tidak lebih dari kisaran itu. Efek putaran kedua ini adalah efek dari kenaikan harga BBM pada hal yang tidak berhubungan langsung, misalnya tingkat upah. Sementara efek putaran pertama adalah inflasi," ujarnya. (BOY/TAV/FAJ)

| IP: 38.107.191.88
© 2004 by Library of Pelangi. Managed by FORLINK. Developer by Imat