Alamat
Jl. Wijaya VI No. 14B, Kebayoran Baru - Jakarta
Indonesia 12160
Ph. 021. 72801172
Fax. 021. 72801174
E-mail : perpustakaan@pelangi.or.id
www.pelangi.or.id

Jam Buka
Senin - Kamis
Pk. 09.00 s/d 16.00
Jumat
Pk. 09.00 s/d 15.00


Link
http://www.pelangi.or.id
http://opac.pelangi.or.id
http://www.jplh.or.id
http://campaign.pelangi.or.id
http://books.google.com
http://www.pnri.go.id



Iklan


Artikel pada Topik : Koleksi Artikel Surat Kabar

 

WHO Cemas Pemanasan Global
03-Jul-2007 | 08:28

Selasa, 03/07/2007
KUALA LUMPUR(SINDO) – Perubahan gaya hidup sangat penting untuk mengurangi emisi karbon yang merusak kesehatan dan mengancam pertumbuhan ekonomi kawasan Asia. Peringatan itu diungkapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kemarin. Berdasarkan perkiraan WHO, perubahan iklim berdampak langsung dan tidak langsung pada tewasnya 77.000 orang per tahun di Asia. ”Sejauh ini dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Jika tren tersebut berlanjut, mungkin akan berdampak pada ekonomi,” ujar Shigeru Omi, direktur regional WHO di Pasifik Barat,kemarin.

”Tentu saja ancamannya di sana. Kita tidak boleh menunggu hingga itu terjadi,” ujar Omi dalam konferensi empat hari mengenai dampak perubahan lingkungan dan kesehatan di negara- negara Asia Tenggara dan Asia Timur. Omi menegaskan, tindakan nyata diperlukan karena peran Asia dalam penciptaan gas rumah kaca diperkirakan makin meningkat dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi China dan India.

”Kita sekarang sudah mencapai tahap kritis di mana pemanasan global secara serius memengaruhi kehidupan dan kesehatan. Masalah ini akan semakin mengancam kemanusiaan dalam beberapa dekade ke depan jika kita gagal bertindak sekarang,”tambah Omi.

Dalam pernyataannya, dia mengutarakan,isu lingkungan di sejumlah negara diabaikan atau tidak mendapat prioritas utama. Menurut Omi,kondisi itu dapat membuat manusia menderita. Dia sangat mendorong penggunaan sepeda, pemakaian sumber energi yang ramah lingkungan, dan insentif pajak untuk mengurangi emisi karbon.

”Kita perlu menerapkan gaya hidup yang sehat sekaligus ramah lingkungan seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, berjalan, atau bersepeda lebih banyak,”papar Omi. ”Kita perlu menyubsidi energi yangramahlingkunganataumendorong teknologi hemat energi serta penggunaan energi yang ramah lingkungan untuk pembangunan industri,”ujar Omi.

WHO memaparkan,ancaman kesehatan dari pemanasan global termasuk malaria dan wabah demam berdarah meningkat dengan kian banyaknya nyamuk.Sementara berkurangnya curah hujan dan keterbatasan sumber air bisa memicu penyakit cacar air. Karbondioksida dari pemakaian energi fosil menyumbang peran terbesar terciptanya gas rumah kaca yang dikecam sebagai penyebab pemanasan global.

Sedikitnya 40 delegasi dari 16 negara, termasuk China, India, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam telah mengidentifikasi sejumlah cara inovatif untuk memerangi perubahan iklim.Omi menuturkan, dari pertemuan itu, perubahan iklim akan didiskusikan dalam forum regional untuk lingkungan dan kesehatan di Thailand bulan depan.

Awal tahun ini, PBB memperingatkan, miliaran orang di muka bumi akan menghadapi ancaman kekurangan air. Jutaan orang juga akan terancam kelaparan karena rusaknya sistem cuaca di bumi akibat gas rumah kaca mengubah pola curah hujan, memicu badai, kekeringan, banjir,dan keterbatasan air.

Sementara kemarin, di New Delhi, Jepang, dan India memperingatkan bahwa dunia menghadapi tantangan dalam melawan perubahan iklim di samping pertumbuhan ekonomi yang terus didorong maju. Peringatan itu muncul dalam pernyataan bersama setelah pertemuan antara Montek Singh Ahluwalia,Wakil Kepala Komisi Perencanaan India dan Menteri Ekonomi Jepang Akira Amari.

”Umat manusia menghadapi tantangan yang sangat penting sebagai respons terhadap perubahan iklim dan pembangunan ekonomi berkelanjutan,” papar pernyataan bersama,kemarin. Kedua negara sepakat membuat tujuan dan rencana aksi sukarela untuk meningkatkan efisiensi energi.Keduanya juga mendorong kerja sama dalam pengembangan sumber energi yang dapat diperbarui.

”Kerja sama antara kedua negaradalamproyekenergiakan saling menguntungan,” rilis pernyataan bersama tersebut. Amari melakukan lawatan lima hari ke India sepekan setelah perundingan perdagangan bebas di ibu kota India berakhir dengan perbedaan besar.

India meminta proteksi lebih untuk industri domestiknya, namun Tokyo menolak konsesi tersebut. Selama lawatannya, Amari akan meninjau perkembangan usulan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Menteri Perdagangan India Kamal Nath. (AFP/CNA/syarifudin)

Source:Seputarindonesia

| IP: 38.107.191.85
© 2004 by Library of Pelangi. Managed by FORLINK. Developer by Imat